Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2016

Antara Rinai, Lapar, dan Nyasar

Rerintikan gerimis seakan tersenyum manis menyambutku yang keluar dari Stasiun Pondok Ranji. "Ah! Hujan, "gerutuku sambil berdiri menunggu hujan reda. Sesekali ku tengok anak kecil pembawa payung yang tersenyum menyambut turunnya hujan dengan riang gembira. Tak seperti aku yang justru menekuk senyum. Rinai yang datang tiba-tiba muncul sekawanan dan membuat hujan yang tadinya tik-tik rintik-rintik justru semakin lebat dan deras. Segera saja ku tutup tasku dengan plastik anti air agar tak basah. Ku amati sekeliling, semua orang asik dengan gadget mereka masing-masing. Ada yang termenung, ada pula yang mengobrol. Lalu aku berbisik pada angin. "Hei, tolong tiup awannya sebentar saja, aku ingin berlari. Lekaslah, hari sudah sore." Seolah mendengar ucapanku, hujan yang tadinya deras berangsur reda. Meski demikian, tetap saja tetes-tetes air hujan ini menarikku pada putaran rindu yang enggan berlalu. Lalu kaki ini melangkah sambil berlari-lari kecil keluar stasiun.

Surat Untukmu; Ketika Surat Tak Dibalas, Maka Carilah

Siapa yang tidak kenal dengan Prilly Latuconsina? Gadis imut ini selalu identik dengan ciri khasnya yang centil, bawel, dan pecicilan. Namun, kali ini Prilly akan tampil beda di film perdananya. Yups! Film Surat Untukmu, Prilly akan berakting menjadi 180 derajat berbeda dari Prilly yang sering 'nongol' di sinetron. Di Film Surat Untukmu, Prilly berubah total memerankan sosok gadis desa yang ayu, manis, dan sederhana, ditambah logat jawa yang kental, membuat Prilly tampil beda di filmnya ini. Film Surat Untukmu bercerita tentang kisah perjuangan Gendis (Prilly Latuconsina) dalam mencari keberadaan sang ibu yang telah pergi meninggalkannya sejak kecil. Dalam kesederhanaannya, Gendis tinggal bersama ayahnya, Danu (Tyo Pakusadewo) yang sehari-hari bekerja sebagai wayang orang di sekitar candi di Dieng. Untuk mengobati rasa rindunya, Gendis sering mengirim surat kepada sang ibu yang ada di Jakarta. Akan tetapi, selama hampir dua tahun belakangan ini, ia tak pernah lagi mendap

Secangkir Kopi, Seteguk Cerita

“Hati-hati!” Sebuah tangan refleks menarik tangan Tabi ke pinggir jalan. “Uh, hampir saja! Kalau tidak kamu pasti sudah diserempet sama truk itu.” Ah, bak dalam sebuah dongeng ketika sosok pangeran tampan datang menyelamatkan sang puteri. Tabi terpesona olah sikap pemuda yang barusan menolongnya. “Terimakasih! Namaku Tabi!” Pemuda itu terus berjalan santai dengan headset terpasang di telinganya. Tabi terus saja berteriak terimakasih, namun ia seperti tak mendengar dan terus melangkah. “Kamu abis dari mana sih, aku cariin juga! Ayo temani aku beli kopi pesanan kakek di kedai Pak Wan.” “Em, anu...aku abis dari....” belum selesai Tabi berbicara, tangannya langsung ditarik oleh Dona, sahabat kecilnya menuju kedai kopi Pak Wan. Kedai kopi Pak Wan terlihat ramai. Semerbak aroma kopi mengudara seolah tersenyum ramah pada tiap pengunjung yang datang. Ah! Meski harum semerbak, tetap saja sejak dulu Tabi tak suka aroma kopi. Gadis cantik itu menatap ke sekeliling kedai. Tap ! Ta

Setelah Alan Kurdi, Kini Omran Daqneesh

Masa tumbuh kembang adalah masa paling menyenangkan bagi perkembangan dunia anak-anak. Saat di mana penuh kehangatan dan kasih sayang dengan orang-orang terkasih, lingkungan yang nyaman dan aman, serta kebebasan bereksplorasi sepenuh hati. Namun, semua itu tidak berlaku untuk anak-anak Suriah. Sungguh miris memang, di tengah masa pertumbuhan, mereka dihadapkan dengan berbagai ancaman yang pelik. Setiap hari mereka dihadapkan oleh ancaman kematian. Tidak ada gelak tawa, tidak ada candaan lucu. Yang terdengar sepanjang hari adalah jeritan dan teriakan takut. Dentuman bom terus menghujani Negeri Suriah tiada henti. Bak sebuah negeri kelam membelenggu yang terkungkung dalam kabut kesedihan. Lantas bagaimana dengan nasib para sipil yang tak berdosa? Yang turut menjadi korban. Bagaimana pula dengan nasib anak-anak. Ya,  mereka yang tidak tahu apa-apa, yang masih suci bersih darah mengalir di tubuh mereka, apa pantas mereka sekecil itu turut merasakan pedihnya hidup di belantara