Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label CERPEN

Man Jadda Wajadda

“Lho, kamu kenapa nangis, Ran?” tanya Mbok Tinem ketika melihat Rani pulang dari sekolah. Ia menangis sejadi-jadinya dipelukan Mbok Tinem. “Sabar ya sayang. Mereka hanya melihat kekurangan fisikmu. Tapi mereka tak melihat kelebihan yang kamu miliki,” ucap wanita tua itu. Rani pun terisak, kemudian ia melangkah berjalan menuju kursi dan duduk di depan Mbok Tinem. “Besok ada lomba lari di sekolah, Mbok. Rani mau ikutan. Tapi teman-teman di sekolah meledek Rani. Mereka mengatakan kalau Rani tidak boleh ikut perlombaan itu. Mereka bilang Rani kan pincang, jadi tidak boleh mengikuti lomba lari tersebut,” kata anak itu sedih. Mbok Tinem pun beranjak dari tempat duduknya, kemudian mengelus kepala Rani. “Kamu tidak boleh sedih sayang. Di balik kekuranganmu, kamu harus tunjukan kelebihanmu. Jangan lemah dihadapan mereka. Kalau kamu yakin, ikut saja lomba itu. Ayo semangat!” tutur Mbok Tinem. Rani pun mengangguk. Kemudian ia mengambil tas sekolahnya. Ia menunjukan tasnya yang sudah bol...

Salah Sangka

Seorang anak laki-laki yang mengenakan seragam putih abu-abu baru pulang dari sekolah. Ia memasuki rumah sederhananya, kemudian duduk di teras rumah sambil melepas sepatu. “Ayah kemana, bu?” teriak anak itu dari teras rumah pada ibunya yang sedang memasak didapur. Ia mencari ayahnya karena semenjak tadi tidak melihat batang hidung ayahnya. “Tunggu saja, Ayahmu lagi ketemuan kak Ali.” Jawab ibunya singkat sembari menggoreng tahu dibelakang.  Sang anak pun mengerti maksud ibunya, segera ia bergegas pergi ke kali yang tak jauh dari rumahnya. Mencari sang ayah, tapi tak ada sosok ayahnya di sana. Yang ada hanyalah anak-anak kecil yang sedang berenang. Anak itu memonyongkan mulutnya dan memutuskan untuk kembali pulang kerumah. Ia kembali duduk di teras sembari mengelap peluhnya yang berjatuhan. “Ibu bohong! Katanya ayah di kali, tapi aku susulin ke kali disana tidak ada ayah, bu!” teriak anak itu dari teras rumahnya.  “Iya, ayahmu lagi kerumah kak Ali di Ciputat.” J...

Sabar Dalam Lapar

Andic memegangi perutnya yang bulat, sembari duduk dibawah pohon jambu. Semilir angin manja mengelus kepalanya yang membuat ia terkulai dan tidur. Dari dalam sebuah rumah kontrakan terdengar jeritan yang menyayat hati. “Andiiiiic! Kamu yang menghabiskan persediaan mie di lemari? Kamu tau, aku ini lapar, lapar! Tak kau lihat betapa menderitanya diriku ini, hiks..satu kontrakan dengan laki-laki rakus sepertimu.. oh, malang nya nasibku. Hiks!” Teriak Beben sembari mengencangkan urat leher dan berkacak pinggang didepan Andic yang sedang tertidur pulas. Namun, nampaknya Andic tak mendengar ocehan kawannya itu. Beben hanya menarik nafas panjang sembari memegang dadanya. Nafasnya terasa sesak hingga ia terduduk lemas, bagai sebuah ilalang yang ditiup angin, lemah tak berdaya.  Mendengar teriakan diluar membuat penghuni kontrakan didalam rumah sederhana itu berhamburan keluar, mencari tau, apa yang terjadi diluar sana. “Apa ada ini? Ini ada apa? Ada ini apa?” Ucap Tajri sem...

Ada Cinta Di Dojo

Hira melangkahkan kakinya dengan semangat. Malam ini ia akan kembali lagi pada dunia perkaratean. Sudah satu tahun ini ia tidak latihan.Karena tahun kemarin ia fokus belajar untuk ikut Ujian Akhir  Sekolah. Namun kini, ia sudah memasuki SMA  favorit dambaannya, kini ia melanjutkan kembali di dunia perkaratean. Rasa senang bercampur takut menghinggapi dirinya.Ia takut kalau-kalau sempai memarahinya karena sudah satu tahun tidak latihan.Obi kuning melingkar di pinggangnya. Ia pun merapikan doginya dan menguncir rambutnya   “Ayo kak,siap berangkat," ucap Galih adiknya. Hira pun menganggukan kepalanya.  “Ayo cepat, udah jam 18.50 nih, 10 menit lagi masuk nih," tambah Ranti sepupunya. Mereka pun berangkat, tetap saja Hira merasa takut. Saat mereka sampai di dojo, Hira merasa asing dengan wajah-wajah baru di dojonya. “Ayo cepat-cepat,,bentuk barisan !! Ayo adek-adek,cepat buat barisan! Yang sabuk warna dan yang putih dipisah ya !” Teriak seorang anak laki-l...

Batu Ajaib

Sore itu, Ibu Angsa sedang mengajari kedua anaknya berenang. Angsa Hitam dan Putih nama kedua anak Ibu Angsa tersebut. Si Hitam mempunyai sifat yang pemalas, sombong dan rakus, ia selalu menganggap remeh Angsa Putih. Angsa Putih telah pandai berenang, karena ia rajin berlatih, sedang Angsa Hitam hanya bermalas-malasan, Angsa Hitam belum terlalu pandai berenang. “Angsa Putih, buat apa kamu rajin berlatih, kita ini diciptakan pandai berenang, jadi buat apa latihan, toh nanti kita juga bisa berenang sendiri kok, tanpa harus berlatih.” Gerutu Angsa Hitam pada saudaranya. Tak lama kemudian, sang induk pun datang. “Nak, kalian disini dulu ya, jangan kemana-mana, ibu mau kekandang sebentar. Jangan dekati tengah sungai nak, arusnya deras.” Pesan Ibu Angsa pada kedua buah hatinya. Tak lama berselang, induk angsa itu pun berlalu. Segerombolan anak bebek melintas mendekati kedua angsa tersebut. “Hei teman, ayo ikut kami berenang, kami mau kehulu sungai, disana banyak makanan yang lezat....