Langsung ke konten utama

Man Jadda Wajadda


“Lho, kamu kenapa nangis, Ran?” tanya Mbok Tinem ketika melihat Rani pulang dari sekolah. Ia menangis sejadi-jadinya dipelukan Mbok Tinem. “Sabar ya sayang. Mereka hanya melihat kekurangan fisikmu. Tapi mereka tak melihat kelebihan yang kamu miliki,” ucap wanita tua itu. Rani pun terisak, kemudian ia melangkah berjalan menuju kursi dan duduk di depan Mbok Tinem.

“Besok ada lomba lari di sekolah, Mbok. Rani mau ikutan. Tapi teman-teman di sekolah meledek Rani. Mereka mengatakan kalau Rani tidak boleh ikut perlombaan itu. Mereka bilang Rani kan pincang, jadi tidak boleh mengikuti lomba lari tersebut,” kata anak itu sedih. Mbok Tinem pun beranjak dari tempat duduknya, kemudian mengelus kepala Rani.

“Kamu tidak boleh sedih sayang. Di balik kekuranganmu, kamu harus tunjukan kelebihanmu. Jangan lemah dihadapan mereka. Kalau kamu yakin, ikut saja lomba itu. Ayo semangat!” tutur Mbok Tinem. Rani pun mengangguk. Kemudian ia mengambil tas sekolahnya. Ia menunjukan tasnya yang sudah bolong.

“Rani mau ikut lomba lari itu, karena hadiah utamanya tas sekolah, Mbok. Tas Rani kan sudah rusak, bawahnya bolong. Kalau lupa menyimpan pensil, pensil Rani suka jatuh di jalan,” kata Rani sambil menunjukan tasnya yang jelek dan rusak. Mbok Tinem pun hanya tersenyum. Wanita tua itu pun mengangguk kepada Rani. “Kamu jangan berhenti berusaha. Kamu harus bisa, sayang.”

Keesokan harinya, dengan semangat, Rani mendaftarkan diri sebagai salah satu peserta perlombaan dalam kompetisi lomba lari. Semua teman-temannya meledek Rani dan mengatakan kalau orang pincang tak akan pernah menang. “Rani mau ikut lomba lari. Jalan aja rani pincang, gimana mau berlari. Hahaha ! ! semuanya mentertawakan Rani. Tapi anak itu tak putus asa. Dengan penuh percaya diri ia tetap mendaftarkan diri sebagai salah satu peserta dalam perlombaan tersebut.

Bu guru Dewi datang dan menasehati seluruh teman-teman Rani agar tidak mengejek Rani karena kekurangannya. Semua teman-teman Rani pun terdiam. Kemudian bu guru mengizinkan Rani untuk mengikuti perlombaan tersebut. “Lakukan yang terbaik Rani. Kalau kamu berusaha dan bersungguh-sungguh, Insya Allah kamu bisa. Ingat, Man Jadda Wajadda. Jangan pernah menyerah dan teruslah berusaha,” ucap bu guru Dewi memberi semangat pada anak itu.

Rani pun tersenyum dengan semangat dan ia akan membuktikan, jika ia bisa dan mampu untuk mengikuti lomba lari tersebut. Sepulang dari sekolah, Rani berjalan menghampiri Mbok Tinem yang sedang memanen sayur di belakang rumah mereka. ia pun melihat seekor siput yang sedang berjalan dengan sangat lambat. “Mbok, kok siput jalannya pelan banget ya, siput ini sama seperti Rani, jalannya lambat,” ucapnya sedih.

Mbok Tinem pun berjalan mendekat ke arah Rani. “Sudah dengar cerita siput dan kancil belum?” ucap Mbok Tinem. Rani menggelang. Kemudian Mbok Tinem menceritakan kisah antara siput dan kancil yang beradu lomba lari. Kancil yang sombong pun kalah, dan siput yang jalannya pelan akhirnya menjadi pemenangnya. Semua itu terjadi karena siput yakin kalau dia akan jadi pemenangnya,” kata Mbok Tinem. Rani pun menjadi semangat mendengar ucapan dari Mbok Tinem. Ia pun berusaha dan yakin suatu saat nanti akan menjadi pemenangnya. Ia tidak akan menyerah hanya karena cacat fisiknya. Ia pun giat berlatih agar bisa menjadi pemenangnya.

Dan tibalah saat perlombaan, seluruh teman-teman meremehkan kemampuan Rani. Tapi bu guru Dewi dan Mbok Tinem terus memberikan semangat pada Rani. Walau dengan penuh susah payah, ia berusaha berlari secepat mungkin. Rani akhirnya mampu berlari dengan cepat dengan kakinya yang pincang.

Semua orang yang melihat kegigihan Rani menjadi terharu akan semangat juang anak itu. Mbok Tinem tersenyum bangga melihat Rani yang mampu berlari dengan cepat tanpa memperdulikan ejekan yang terdengar sepanjang medan lintasan perlomban.

“Yee...Alhamdulillah, Rani menang. Terimakasih ya Allah,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca. Semua orang yang ada di sana memberikan selamat pada Rani. Teman-temannya pun meminta maaf atas sikap mereka yang kurang baik pada Rani selama ini. Rani pun memaafkan teman-temannya. Mbok Tinem dan bu guru Dewi langsung memeluk Rani. Ia pun menerima hadiah utama, yaitu sebuah tas sekolah berwarna merah jambu. “Wah, tasnya cantik sekali. Tas Rani baru..horeee!” soraknya senang.         *(Mar)

Komentar